Wednesday, November 8, 2017

Rintih Rintik


  • Konten pada cerita fiktif ini tidak untuk semua kalangan, khususnya bukan untuk anak-anak dan orang-orang yang mudah terganggu. 
  • Cerita fiktif ini mengandung unsur horor, gore, nsfw dan beberapa hal lainnya yang bertentangan pada beberapa norma.



Tik Tik Tik
Bunyi hujan di atas genteng
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok, daun dan ranting
Pohon dan kebun basah semua

Adik Nilam yang bernama Melati bernyanyi sambil melihat ke butiran-butiran air yang menempel di jendela. Di dalam mobil, mereka dalam sebuah perjalan menuju rumah baru. Sebelumnya Nilam, Melati, dan kedua orang tua mereka tinggal di desa, di rumah Kakek. Tapi hari ini mereka pindah. Ayah Nilam mendapatkan pekerjaan baru yang lebih layak di kota. Perjalanan sangat jauh dan untung saja begitu sampai, hujan sudah reda.

Mereka kini tinggal di sebuah rumah kontrakan. Tidak begitu besar, tapi juga tidak mahal. Berada di pinggiran kota, tapi jauh lebih enak daripada di desa. Nilam sudah tidak sabar untuk merasakan jadi anak kota. Tinggal di rumah baru, pergi ke sekolah baru, dan bermain di lingkungan baru. Penuh semangat dan wajah riang, Nilam membantu orang tuanya mengangkat barang.

Terlihat olehnya seorang bapak berbadan botak, gemuk, dan kulit berwarna coklat gelap ikut membantu. Setelah selesai semua barang di angkat, bapak itu berbicara dengan ayahnya. Nilam yang penasaran bersembunyi di balik kaki ayahnya.

"Nilam, ini Om Adi dari depan rumah, salam dulu, baik kali om ini udah bantu angkat barang kita," ujar Ayah Nilam.

"Ah, tidak-tidak, saya memang orangnya senang membantu, apalagi menyambut tetangga baru."

Malu-malu Nilam pun maju dan menyalam tangan Om Adi ke keningnya, sekilas iya merasakan sebuah sorotan mata yang melintas dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Nilam pun mengangkat wajahnya. Sepintas terlihatnya Om Adi menjilat bibirnya. Tapi Nilam tidak berpikir yang berlebihan pada saat itu. Dia pun hanya berlari masuk ke rumah.

Tuesday, July 11, 2017

Jalan-Jalan ke Tembung

Jadi ceritanya, seorang pria 25 tahun yang berjiwa kekanak-kanakan dan jarang keluar rumah pergi ke pesta nikahan temannya di Tembung. Jauh wak, jauh kali pun. Udah, itu aja sih, sisanya marok foto pas lagi nunggu lampu merah ato macet.

Tutturu~



Tuesday, June 27, 2017

Pencerita

Aku ingin menulis cerita
Sebuah cerita pun jadilah
Cerita yang dapat diceritakan kembali
Dari orang ke orang lain pun jadilah

Cerita sederhana saja
Tak perlu batas pendidikan
Cerita yang dapat dinikmati semua kalangan
Agar dapat dinikmati seluruh dunia

Ah, tapi Shakespeare pun terkenal dengan kisah cinta
Makoto Shinkai juga
Hans Christian Andersen pun begitu pula
Aku sendiri masih bertanya-tanya apa itu cinta
Mungkin aku sudah memiliki jawabannya
Tapi bisa saja berbeda

Materai
Tanda tangan
Stempel
Meski sudah mengikat
Tetap tak hilang rasa ingin hidup dengan bercerita
Bersama ilustrasinya
Menjadi sebuah sinema
Melalang buana hingga ujungnya

Tak ada habisnya
Berkhayal dengan mimpi

Sunday, March 12, 2017

Your promise

One day in my life
I won't regret every time that I have spent to say hello
Every hello that becomes good bye
Every good bye that comes from wrong moves
Every wrong move that turns to envy
Every envy that holds a grudge
Every grudge that keeps me staying awake
Every night staying awake to get me anxiety
Every time that anxiety leads me to failure
Every failure that makes me fall
Every fall that recalls me how to stand up
Every stand up that let life hits me
Again and again and again
But I believe
One day in my life
I will thank you all for being part of my life
I believe that I will say hello to that one day

Saturday, December 24, 2016

Khayalan

Sekali lagi kau mengucapkan kata yang sama
Sudah berkali-kali aku mendengarnya
Tapi aku tidak akan pergi
Karena aku tahu kau sebenarnya ingin aku tetap di sini

Ingatkah kau dengan figur dinosaurusmu
Yang telah hilang bersama seragam putih merahmu?
Hingga kini permainan kartu di usia 20mu
Namun mereka masih tidak dapat melihatku
Begitu juga denganmu
Tapi di dalam kepalamu
Kau selalu berbicara denganku

Sekarang tinggimu sudah lebih 170
Tapi hobimu masih seperti anak kecil
Apakah karena kau tidak ingin kehilanganku?

Tidak perlu dijawab
Aku sudah tahu
Karena aku adalah imajinasimu
Meski mereka bilang, "Kekanak-kanakan."
"Tidak dewasa."
Tapi ingatlah segala halnya yang pernah kau ciptakan
Namaku adalah prototype semua karyamu
Pakailah selalu aku
Percayalah
Akulah strong pointmu

Bayangkanlah
Berimajinasilah
Dan ciptakan khayalanmu
Karena aku akan selalu bersamamu
Melewati semua batas waktu itu
Melihatmu berhasil adalah kebahagianku

Kini kau sudah bukan lagi pelajar
Dunia nyata adalah permukaanmu
Dan kau mulai kembali mencari jati dirimu
Lagi
Mencoba ke sana ke mari
Meski kau tahu itu bukan pilihanmu
Lalu kau pun hanya mangut-mangut
Di saat dia mengatakan,
"Saya maunya begini."
Apakah memang itu yang kau mau?

Bayangkanlah
Berimajinasilah
Dan ciptakan khayalanmu
Itulah yang kau lakukan sejak dulu
Pengalaman adalah guru terbaikmu
Jangan pernah lupa apa yang selalu kau lakukan

Bersama-sama kita selalu menghasilkan karya
Tak pernah lupa kau letakkan namaku di sana
Meski tak ada yang pernah berjumpa denganku
Namun itu sudah membuatku merasakan hidup di duniamu

Ide-ide bertaburan yang tak pernah terselesaikan
Apakah itu karena tidak ada aku di sana?
Lalu kau mencoba memaksakan segalanya
"Bisa, harus bisa!" teriakmu dalam hati
Tapi jauh lebih dalam lagi
Kau ingin meletakkanku di sana

"Membayangkannya pun aku tak bisa
Bagaimana mungkin aku bisa menciptakan ini?"
Denyut-denyut dalam kepala pun mulai terasa
Tiap detik terus mendekati batas waktu
"Apakah ini saatnya aku menyerah saja?"

Pejamkan matamu
Tarik napasmu
Sebagai khalayanmu biarkan aku yang membayangkan
Memberikanmu gambaran
Mengatur konsep untuk kau kerjakan
Setiap detikmu akan menjadi waktu untuk berusaha
Usahamu dan usahaku
Akan menjadi karya kita